Ticker

8/recent/ticker-posts

Konsep Pemikiran Ekonomi Presiden di WEF Davos

Langkah Berisiko Trump: Dari Diplomasi Buntu ke Operasi Militer terhadap Iran

 


Florida — Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan operasi militer terhadap Iran pada Sabtu menandai perubahan signifikan dalam pendekatannya terhadap risiko dan penggunaan kekuatan militer. Dalam hitungan bulan, Trump menunjukkan peningkatan kesediaan untuk mengambil langkah yang sebelumnya ia hindari, termasuk menyetujui serangan yang menyasar langsung pucuk pimpinan Iran.

 

Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjalankan rencana operasi yang mencakup serangan terarah terhadap kepemimpinan Iran. Di antara target utama adalah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang berusia 86 tahun. Beberapa jam setelah operasi dimulai, Trump mengumumkan kematian Khamenei melalui media sosial.

 

Langkah tersebut kontras dengan sikap Trump delapan bulan sebelumnya. Saat perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu, ia memang menyetujui pengerahan pembom B-2 untuk menghantam tiga fasilitas nuklir utama Iran. Namun ketika Israel mengusulkan rencana untuk membunuh Khamenei, Trump saat itu menolak karena khawatir tindakan tersebut akan memicu ketidakstabilan kawasan.

 

Kini, kehati-hatian itu tampak ditinggalkan. Trump menyatakan bahwa Khamenei “tidak mampu menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih” yang digunakan bersama Israel. Ia juga menyebut situasi ini sebagai peluang besar bagi rakyat Iran untuk mengambil alih masa depan negaranya.

 

Sebelum memutuskan serangan, pemerintahan Trump telah berbulan-bulan mencoba membuka jalur negosiasi dengan Teheran. Pejabat AS menyebut mereka menawarkan berbagai opsi agar Iran dapat menjalankan program nuklir untuk kepentingan sipil, termasuk jaminan pasokan bahan bakar nuklir.

 

Namun menurut pejabat tersebut, Iran dinilai tidak menunjukkan itikad untuk membatasi pengayaan uranium. Mereka menggambarkan respons Teheran sebagai upaya mengulur waktu.

 

Perintah serangan keluar hanya dua hari setelah utusan khusus AS kembali melakukan perundingan dengan pejabat Iran. Sejumlah sekutu AS di Timur Tengah dan Eropa sebelumnya mendorong Washington memberi ruang lebih besar bagi diplomasi.

 

Ali Vaez dari International Crisis Group menilai dampak dari langkah tersebut berpotensi luas dan tidak terduga, baik bagi stabilitas internal Iran maupun dinamika kawasan.

 

Sejumlah analis melihat keputusan terbaru Trump sebagai bagian dari pola kebijakan sebelumnya. Pada 2018, ia menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran era Barack Obama. Pada 2020, ia memerintahkan serangan drone yang menewaskan Jenderal Qassem Soleimani. Tahun lalu, ia juga memerintahkan pemboman fasilitas nuklir Iran yang diklaim “menghancurkan” program tersebut.

 

Aaron David Miller, mantan penasihat kebijakan Timur Tengah di beberapa pemerintahan AS, menilai Trump berulang kali mengambil langkah berisiko tinggi tanpa menghadapi konsekuensi besar secara langsung, sehingga memperkuat keberaniannya dalam mengambil keputusan serupa.

 

Di sisi lain, pejabat pemerintahan Trump menegaskan bahwa Iran menolak membahas program rudal balistik dan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut isu rudal balistik sebagai persoalan serius.

 

Trump juga mengklaim bahwa Iran tengah mengembangkan rudal yang mampu menjangkau wilayah AS. Namun laporan intelijen AS sebelumnya memperkirakan kemampuan tersebut baru mungkin tercapai dalam satu dekade ke depan jika Iran memutuskan untuk mengembangkannya.

 

Keberhasilan operasi militer AS awal tahun ini di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro, disebut sejumlah pengamat turut memengaruhi kepercayaan diri Trump dalam menggunakan kekuatan militer sebagai alat tekanan politik.

 

Trump sempat mempertimbangkan tindakan militer bulan sebelumnya ketika Iran melakukan penindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah. Namun saat itu ia menunda langkah tersebut.

 

Menurut analis Jonathan Schanzer, penundaan tersebut justru memberi waktu tambahan bagi militer AS untuk memperkuat kehadiran di kawasan, termasuk pengerahan kapal perang dan jet tempur dalam jumlah besar.

 

Trump disebut berharap tekanan militer akan memaksa Khamenei melunak. Namun hingga akhirnya operasi diluncurkan, tidak ada tanda-tanda perubahan sikap dari pihak Iran.

 

Perkembangan terbaru ini membuka babak baru dalam hubungan AS-Iran yang telah lama diwarnai ketegangan, dengan dampak yang masih sulit diprediksi bagi stabilitas Timur Tengah dan politik global.(Sumber/ Foto: AP)