Ticker

8/recent/ticker-posts

Konsep Pemikiran Ekonomi Presiden di WEF Davos

Tantangan Debat Tyo Dibalas Dengan Intimidasi Pada Keluarga


YOGYAKARTA – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, melontarkan tantangan debat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto terkait sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).


Tantangan tersebut disampaikan di tengah polemik yang berkembang setelah Tiyo mengkritik pelaksanaan program MBG. Ia menilai kampus semestinya menjadi ruang dialog akademik yang terbuka untuk menguji kebijakan publik secara rasional dan berbasis data.


“Dalam sistem demokrasi, perbedaan pandangan seharusnya diselesaikan melalui dialog terbuka, bukan pernyataan sepihak,” ujar Tiyo dalam keterangan yang disampaikan kepada wartawan.


Menurut dia, debat terbuka diperlukan agar kebijakan yang dijalankan pemerintah dapat diuji secara argumentatif di hadapan publik, khususnya kalangan akademisi dan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan bentuk permusuhan terhadap pemerintah, melainkan bagian dari fungsi kontrol sosial mahasiswa.


Namun, pasca kritik terhadap program MBG, Tiyo mengaku menerima sejumlah intimidasi. Ia menyebutkan adanya pesan bernada ancaman, tudingan manipulatif, hingga serangan terhadap reputasinya. Ia juga menyatakan bahwa intimidasi turut menyasar keluarganya.


Tiyo berharap aparat penegak hukum dapat memberikan perlindungan serta menindaklanjuti dugaan ancaman tersebut. “Kebebasan berpendapat adalah hak konstitusional yang harus dijamin,” katanya.


Di sisi lain, respons publik atas tantangan debat itu terbelah. Sebagian pihak menilai langkah BEM UGM sebagai wujud peran mahasiswa sebagai kekuatan moral dalam demokrasi. Namun, ada pula yang mempertanyakan efektivitas format debat langsung antara mahasiswa dan presiden, mengingat perbedaan kapasitas dan tanggung jawab keduanya.


Sejumlah pengamat menilai polemik ini menjadi ujian bagi kualitas demokrasi dan ruang kebebasan berpendapat di Indonesia. Dialog terbuka dinilai dapat menjadi sarana meredakan ketegangan sekaligus memperkuat tradisi adu gagasan berbasis data.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana terkait tantangan debat tersebut maupun pengakuan intimidasi yang disampaikan Ketua BEM UGM.