Ticker

8/recent/ticker-posts

Konsep Pemikiran Ekonomi Presiden di WEF Davos

Ramadan, Beras, dan Relawan: Antara Kepedulian Sosial dan Panggung Politik

Ramadan selalu menghadirkan dua wajah yang berjalan beriringan: spiritualitas dan solidaritas sosial. Di satu sisi, ia menjadi ruang kontemplasi. Di sisi lain, ia menjelma momentum berbagi. Namun, di tengah geliat itu, publik kerap dihadapkan pada satu pertanyaan klasik: sejauh mana aksi sosial benar-benar lahir dari kepedulian, dan kapan ia mulai bersinggungan dengan kepentingan lain?

Kegiatan “Ramadan Berbagi Beras” yang digelar oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Emak Muda (EMUD), relawan pendukung Prabowo Subianto, pada Rabu (18/3/2026), menjadi contoh menarik untuk dibaca dalam dua perspektif tersebut.
Secara kasat mata, tidak ada yang salah. Bahkan sebaliknya, program pembagian 100.000 paket beras secara nasional—dari Jakarta hingga berbagai wilayah di Indonesia—adalah langkah konkret yang patut diapresiasi. Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, bantuan pangan jelas bukan hal sepele. Ia menyentuh kebutuhan paling dasar.

Relawan EMUD hadir langsung di lapangan, menyapa warga, membagikan beras, sekaligus membangun interaksi sosial. Dalam konteks ini, kegiatan tersebut berhasil menghadirkan kehangatan Ramadan yang sesungguhnya: kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian.

Namun, di sinilah ruang refleksi menjadi penting.

Label “relawan pendukung tokoh politik” yang melekat pada EMUD membuat kegiatan ini sulit dilepaskan sepenuhnya dari nuansa politik. Apalagi, dalam lanskap demokrasi Indonesia, relawan bukan sekadar aktor sosial, tetapi juga bagian dari mesin mobilisasi dukungan.

Pertanyaannya kemudian: apakah publik melihat ini sebagai murni gerakan kemanusiaan, atau sebagai bagian dari investasi sosial-politik jangka panjang?

Tidak ada jawaban tunggal. Bisa jadi, keduanya berjalan bersamaan.

Di satu sisi, tidak adil menafikan niat baik dan kerja nyata para relawan yang turun langsung membantu masyarakat. Banyak di antara mereka bergerak dengan tulus, mengorbankan waktu dan tenaga tanpa pamrih langsung. Dalam situasi seperti ini, kehadiran mereka justru menambal celah yang belum sepenuhnya terjangkau oleh negara.

Namun di sisi lain, realitas politik modern menunjukkan bahwa aksi sosial sering kali menjadi medium paling efektif untuk membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Bantuan yang diberikan hari ini bisa saja menjadi memori kolektif yang berpengaruh pada preferensi politik di masa depan.

Di titik ini, publik sebenarnya tidak sekadar menjadi penerima bantuan, tetapi juga bagian dari dinamika yang lebih besar: relasi antara kekuasaan, citra, dan kepedulian.

Lalu, apakah ini salah?

Tidak selalu.

Yang menjadi krusial adalah transparansi niat dan konsistensi tindakan. Jika kegiatan sosial hanya hadir saat momentum tertentu—terutama yang beririsan dengan kepentingan politik—maka wajar jika publik bersikap kritis. Namun jika gerakan seperti ini dilakukan secara berkelanjutan, lintas momentum, dan benar-benar berorientasi pada kebutuhan masyarakat, maka kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya.

Ramadan, pada akhirnya, bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang kejujuran—termasuk kejujuran dalam niat.

Program berbagi beras oleh EMUD bisa dibaca sebagai cermin dari realitas Indonesia hari ini: di mana kepedulian sosial dan strategi politik sering kali berjalan berdampingan. Tugas publik bukan sekadar menerima atau menolak, tetapi juga memahami, mengkritisi, dan mengawasi.

Sebab dalam demokrasi yang sehat, bantuan sosial tidak boleh kehilangan makna kemanusiaannya, dan politik tidak seharusnya kehilangan etikanya.(*)