Opini leh: Dr. Jerry Massie, PhD*)
Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dalam dinamika geopolitik global. Jalur sempit ini bukan sekadar perairan biasa, melainkan urat nadi distribusi energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi kawasan ini. Maka, setiap ketegangan yang muncul di sana hampir pasti berdampak luas, tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah, tetapi juga ekonomi global.
Dalam konteks meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, muncul spekulasi bahwa Washington bersama Tel Aviv berpotensi mengambil langkah strategis untuk menguasai Selat Hormuz. Pertanyaannya, apakah ini realistis atau sekadar proyeksi kekuatan?
Dari sisi militer, harus diakui bahwa Amerika Serikat memiliki keunggulan yang sangat signifikan. Dengan teknologi mutakhir seperti B-2 Spirit, F-35, serta sistem pertahanan rudal canggih seperti THAAD dan Patriot, AS berada jauh di atas banyak negara, termasuk Iran. Dominasi ini tidak hanya terlihat pada alutsista, tetapi juga pada integrasi sistem tempur, kekuatan siber, hingga jaringan pangkalan militer global.
Di laut, kehadiran kapal induk seperti USS Gerald Ford dan USS Abraham Lincoln mempertegas kemampuan proyeksi kekuatan Amerika. Ditambah lagi dengan pasukan elit seperti Navy SEALs, AS memiliki fleksibilitas tinggi dalam menjalankan berbagai skenario operasi militer.
Namun, melihat konflik hanya dari angka dan teknologi adalah penyederhanaan yang berisiko. Iran, meskipun secara konvensional berada di bawah Amerika, memiliki keunggulan dalam strategi asimetris. Penggunaan drone, rudal jarak menengah, serta taktik perang non-konvensional menjadi kekuatan tersendiri yang tidak bisa diabaikan.
Selain itu, faktor geografis juga memainkan peran penting. Iran berada sangat dekat dengan Selat Hormuz dan memiliki kemampuan untuk mengganggu lalu lintas di kawasan tersebut, bahkan tanpa harus memenangkan perang terbuka. Dalam konteks ini, “menguasai” Selat Hormuz bukanlah perkara sederhana seperti menduduki wilayah daratan.
Pernyataan bahwa Amerika akan dengan cepat merebut dan menguasai Selat Hormuz dalam hitungan pekan perlu dilihat secara kritis. Operasi militer skala besar di kawasan dengan kompleksitas tinggi seperti Timur Tengah tidak hanya soal kekuatan, tetapi juga kalkulasi politik, risiko eskalasi, serta dampak internasional.
Intervensi langsung berpotensi memicu konflik yang lebih luas, melibatkan aktor-aktor regional lain, bahkan membuka kemungkinan gangguan besar terhadap stabilitas ekonomi global. Lonjakan harga minyak, terganggunya rantai pasok, hingga ketidakpastian pasar adalah konsekuensi yang sulit dihindari.
Di sisi lain, keterlibatan Israel dalam skenario ini juga menambah dimensi baru. Bagi Iran, Israel bukan sekadar lawan militer, tetapi juga simbol konflik ideologis yang telah berlangsung lama. Hal ini berpotensi meningkatkan intensitas dan kompleksitas konflik jika benar terjadi kolaborasi militer terbuka.
Pada akhirnya, wacana penguasaan Selat Hormuz lebih tepat dilihat sebagai bagian dari tekanan geopolitik dan strategi deterrence, bukan semata-mata rencana operasional yang pasti terjadi dalam waktu dekat. Dalam dunia yang saling terhubung seperti saat ini, perang besar bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang konsekuensi yang harus ditanggung semua pihak.
Dengan demikian, penting bagi publik untuk menyikapi setiap narasi konflik secara rasional dan kritis. Kekuatan militer memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu dalam percaturan global yang semakin kompleks.
*) - Direktur Exexcutive P3S
.jpeg)
Social Plugin