Ticker

8/recent/ticker-posts

Konsep Pemikiran Ekonomi Presiden di WEF Davos

Pengamat Soroti Kasus Pajak dan Bea Cukai dan Evaluasi Program MBG Menguat

 

Anthony Budiawan- Managing Director Political Economy & Public Studies (PEPS)

JAKARTA– Sejumlah kasus yang mencuat di Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kembali menjadi perhatian publik. Penindakan aparat penegak hukum, termasuk melalui operasi tangkap tangan (OTT), memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas tata kelola dan sistem pengawasan di lingkungan Kementerian Keuangan.

 

Beberapa pejabat, termasuk di bidang penyidikan, telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara yang berbeda. Perkembangan ini mendorong munculnya wacana agar penanganan perkara tidak berhenti pada pelaku teknis di lapangan, melainkan juga menelusuri kemungkinan persoalan yang bersifat sistemik.

 

Sebelumnya, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pernah mengungkap adanya transaksi mencurigakan bernilai ratusan triliun rupiah yang melibatkan pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan. Temuan tersebut sempat memicu perhatian luas dan menjadi bahan evaluasi internal pemerintah.

 

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Prof. Anthony Budiawan dalam kanal YouTube Sinkos Indonesia, Senin (2/3/2026) menyatakan bahwa apabila terdapat indikasi keterkaitan kebijakan atau lemahnya pengawasan pada periode sebelumnya, maka proses hukum dapat meminta klarifikasi dari pejabat terkait.

 

“Dalam prinsip hukum pidana, tidak ada pengecualian berdasarkan jabatan apabila memang diperlukan dalam proses penyelidikan atau penyidikan,” ujarnya.

 

Kendati demikian, ia menekankan bahwa proses hukum harus tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dan didasarkan pada alat bukti yang cukup.

 

Kasus di bidang pajak dan bea cukai dinilai memiliki karakteristik berbeda dibanding perkara pengadaan proyek. Proses administrasi perpajakan dan kepabeanan yang kompleks sering kali menyulitkan pembuktian, sehingga OTT menjadi salah satu instrumen efektif dalam pengungkapan kasus.

 

“Penguatan sistem pengawasan internal dan reformasi birokrasi kembali menjadi sorotan. Sejumlah pengamat menilai langkah perbaikan struktural diperlukan untuk mencegah praktik penyalahgunaan wewenang yang berulang,” harapnya.

 

Di tengah sorotan terhadap penegakan hukum di sektor fiskal, perhatian publik juga tertuju pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

 

Program tersebut bertujuan meningkatkan asupan gizi anak sekolah sebagai bagian dari upaya penguatan kualitas sumber daya manusia. Namun, sejumlah kalangan mendorong evaluasi terhadap ketepatan sasaran serta efektivitas penggunaan anggaran.

 

“Dari sisi kebijakan fiskal, MBG didanai melalui realokasi sejumlah pos belanja negara. Pengamat ekonomi mengingatkan bahwa apabila tidak disertai penambahan total belanja negara, dampak pengganda (multiplier effect) terhadap pertumbuhan ekonomi dinilai terbatas,” ujarnya.

 

Kekhawatiran juga muncul jika realokasi anggaran menyentuh sektor strategis seperti pendidikan. Pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang yang menentukan daya saing nasional.

 

“Pemerintah, di sisi lain, menegaskan bahwa program MBG dirancang sebagai investasi sumber daya manusia dalam jangka panjang dan akan terus dievaluasi dalam pelaksanaannya,” ungkapnya.

 

Di luar isu penegakan hukum dan program sosial, sejumlah ekonom menilai Indonesia masih menghadapi tantangan struktural, terutama di sektor industri dan ekspor.

 

“Dalam beberapa tahun terakhir, daya saing ekspor Indonesia dibandingkan negara-negara di kawasan dinilai mengalami tekanan. Penguatan sektor manufaktur dan integrasi dalam rantai pasok global disebut sebagai kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan,” katanya.

 

 

“Perkembangan kasus hukum di sektor fiskal serta pelaksanaan program prioritas pemerintah diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik. Evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan arah kebijakan ekonomi dinilai penting untuk menjaga stabilitas serta meningkatkan kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha,” pungkasnya.

 

Sumber:: https://youtu.be/zytLHiIeRzA?si=_pTX6g8bNgB7HbUw