JAKARTA – Pemerhati telematika dan mantan anggota Komisi I DPR RI Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes menyoroti munculnya meme politik di media sosial yang mengaitkan isu ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dengan konflik geopolitik global antara Iran dan Israel.
Dalam tulisannya berjudul “Arti Meme Perang akan berhenti, Jika Indonesia Mediator dan JkW publikasikan Ijazah Aslinya”, Roy menilai meme tersebut bukan sekadar humor politik, melainkan refleksi dinamika komunikasi politik di dalam negeri yang dapat mempengaruhi persepsi publik terhadap legitimasi kepemimpinan dan diplomasi Indonesia.
Roy mengungkapkan bahwa meme tersebut beredar di platform Facebook melalui sebuah komunitas bernama Komunitas Bisa Menulis. Meme itu berisi kalimat satir yang berbunyi:
"Apa benar perang antara Iran vs Israel akan berhenti kalau JkW mempublikasikan ijazah aslinya?"
Menurut Roy, kalimat tersebut memang bernuansa satire dan sarkasme, tetapi dinilai memiliki makna simbolik yang lebih dalam terkait dinamika politik domestik Indonesia.
“Meskipun terlihat sebagai humor politik, meme tersebut mencerminkan kritik publik terhadap elite politik serta persoalan legitimasi yang masih diperdebatkan,” tulis Roy.
Dalam tulisannya, Roy juga kembali menyinggung polemik lama mengenai ijazah Jokowi yang menurutnya telah menjadi perdebatan publik selama lebih dari satu dekade.
Ia menyebut awal munculnya kontroversi tersebut berkaitan dengan pernyataan Jokowi dalam seminar “Memimpin dengan Hati” yang diselenggarakan di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada 28 Juni 2013.
Seminar yang dimoderatori jurnalis Rosiana Silalahi itu menghadirkan sejumlah tokoh, antara lain Mahfud MD dan Buya Syafii Maarif. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi disebut pernah menyampaikan bahwa indeks prestasi kumulatif (IPK) yang ia peroleh saat kuliah berada di bawah angka 2,0.
Roy menilai pernyataan tersebut memicu pertanyaan publik mengenai proses akademik Jokowi selama menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ia juga menyinggung berbagai polemik yang muncul setelahnya, termasuk gugatan hukum dan perdebatan di media sosial terkait keaslian dokumen akademik tersebut.
Roy menyebut bahwa sejumlah analisis digital pernah dilakukan terhadap gambar ijazah yang beredar di media sosial.
Menurutnya, analisis tersebut menggunakan beberapa metode dalam forensik digital, seperti:
Error Level Analysis (ELA)
Histogram digital image analysis
Analisis luminance dan chrominance
Metode tersebut, kata Roy, digunakan untuk memeriksa kemungkinan manipulasi pada dokumen digital.
Meski demikian, polemik mengenai ijazah tersebut hingga kini masih menjadi perdebatan di ruang publik, terutama di media sosial.
Dikaitkan dengan Diplomasi Global
Roy kemudian mengaitkan fenomena meme tersebut dengan konteks geopolitik global, khususnya konflik antara Iran dan Israel yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan kesiapan Indonesia untuk berperan sebagai mediator dalam konflik tersebut.
Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono juga disebut telah menyampaikan kesiapan untuk mendorong de-eskalasi konflik dan membuka ruang diplomasi.
Namun, Roy menilai sejumlah analis internasional memandang langkah tersebut sebagai langkah politik yang berani tetapi belum tentu realistis secara geopolitik.
Menurutnya, Indonesia memiliki keterbatasan pengaruh terhadap pihak-pihak utama dalam konflik tersebut, yaitu Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Roy menilai posisi Indonesia dalam geopolitik global cukup kompleks karena berada di tengah tarik-menarik kepentingan berbagai kekuatan dunia.
Di satu sisi, Indonesia memiliki kerja sama militer dengan Amerika Serikat melalui latihan militer Super Garuda Shield yang berlangsung sejak 2007.
Di sisi lain, Indonesia juga memiliki hubungan ekonomi yang cukup kuat dengan China melalui berbagai proyek investasi infrastruktur.
Kondisi tersebut, menurut Roy, dapat memunculkan persepsi bahwa Indonesia berada di antara beberapa poros kekuatan global, yakni blok Barat, blok Timur, dan negara-negara dunia Islam.
Roy juga menilai meme politik yang beredar di media sosial dapat dipahami melalui perspektif teori komunikasi politik digital.
Dalam teori tersebut, meme sering digunakan sebagai alat untuk:
menyampaikan satire atau kritik terhadap elite politik
mengekspresikan skeptisisme publik
menciptakan delegitimasi simbolik terhadap kekuasaan
Secara semiotik, Roy menilai meme yang mengaitkan konflik global dengan isu ijazah Jokowi memiliki beberapa lapisan makna.
Salah satunya adalah ironi terhadap diplomasi internasional, di mana konflik global yang kompleks dibandingkan dengan konflik domestik yang dianggap lebih sederhana.
Roy juga mengutip konsep “Two Level Game” dari ilmuwan politik Robert Putnam yang menjelaskan bahwa diplomasi internasional selalu dipengaruhi oleh dinamika politik domestik.
Menurut teori tersebut, legitimasi politik di dalam negeri dapat mempengaruhi kredibilitas suatu negara dalam diplomasi internasional.
“Jika legitimasi domestik dipertanyakan, maka posisi tawar diplomasi suatu negara bisa melemah,” tulis Roy.
Di akhir tulisannya, Roy menilai meme tersebut menyampaikan pesan simbolik bahwa sebuah negara perlu menyelesaikan persoalan legitimasi domestik sebelum memainkan peran besar dalam konflik global.
Ia juga menilai bahwa tawaran Indonesia untuk menjadi mediator konflik Timur Tengah masih lebih bersifat diplomasi normatif dibandingkan realitas geopolitik.
Roy berharap Indonesia mampu memperkuat legitimasi dan konsolidasi internal agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat di panggung internasional.

Social Plugin