JAKARTA – Pemerhati telematika dan mantan anggota Komisi I DPR RI Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes menilai konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang meningkat sejak akhir Februari 2026 menandai perubahan besar dalam karakter peperangan modern serta berpotensi menimbulkan dampak strategis global, termasuk bagi Indonesia.
Analisis tersebut disampaikan Roy Suryo dalam tulisan berjudul “Analisis Konflik Militer AS–Israel vs Iran: Perspektif Geopolitik, Teknologi dan Dampak Strategis Global”. Tulisan ini merupakan bagian ketiga dari rangkaian analisisnya mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah.
Roy menjelaskan bahwa kajian tersebut tidak hanya didasarkan pada perspektif telematika—yang meliputi telekomunikasi, multimedia, dan informatika—tetapi juga pengalaman geopolitik dan keamanan selama ia menjadi anggota Komisi I DPR RI serta Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) selama dua periode pada 2009–2019.
Menurut Roy, eskalasi konflik militer berskala besar antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel mulai meningkat sejak 28 Februari 2026 melalui operasi militer Israel yang disebut Operation Lion’s Roar.
Operasi tersebut dilaporkan menargetkan berbagai fasilitas militer dan infrastruktur strategis Iran di sejumlah wilayah, termasuk di sekitar Teheran. Dalam rangkaian peristiwa tersebut, pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur akibat serangan yang disebut menggunakan teknologi militer canggih.
Serangan tersebut kemudian memicu respons militer dari Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang meluncurkan gelombang serangan balasan berupa rudal balistik, drone, serta operasi militer terhadap target Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
“Konflik ini menandai pergeseran dari pola perang proksi menuju konfrontasi langsung antarnegara yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan regional maupun global,” tulis Roy.
Dalam kronologi eskalasi konflik, Roy menyebut bahwa Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah Israel, termasuk kawasan metropolitan Tel Aviv yang dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.
Selain itu, serangan Iran juga diarahkan ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, yang memperluas dimensi konflik dari sekadar konfrontasi Iran–Israel menjadi melibatkan arsitektur keamanan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Roy juga menyoroti perkembangan teknologi militer yang digunakan dalam konflik ini. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penggunaan rudal hipersonik Iran seri Fattah.
Rudal tersebut termasuk kategori Hypersonic Glide Vehicle (HGV) yang mampu melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 10 dan melakukan manuver di atmosfer atas. Kecepatan dan kemampuan manuver tersebut membuatnya jauh lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional.
Menurut Roy, karakteristik utama senjata hipersonik adalah kecepatannya yang sangat tinggi, yakni antara Mach 5 hingga Mach 15, serta lintasan yang tidak mengikuti pola balistik tradisional.
Kondisi ini membuat sistem pertahanan udara Israel seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow-2 serta Arrow-3 menghadapi tantangan besar dalam menghadapi jenis ancaman baru tersebut.
Roy juga menyoroti fenomena saturation attack, yakni serangan dalam jumlah besar menggunakan kombinasi drone murah dan rudal cepat untuk menekan kapasitas sistem pertahanan udara.
Strategi ini memanfaatkan ketimpangan biaya antara senjata penyerang dan sistem pertahanan. Dalam teori militer dikenal sebagai cost-exchange imbalance, di mana biaya interceptor untuk menembak jatuh target jauh lebih mahal dibandingkan biaya produksi drone atau rudal yang menyerang.
Dalam strategi ini, drone kamikaze seperti seri Shahed sering digunakan sebagai umpan untuk menghabiskan interceptor pertahanan udara sebelum rudal presisi diluncurkan.
Pendekatan tersebut merupakan bagian dari doktrin perang asimetris Iran yang dirancang untuk mengimbangi keunggulan teknologi militer negara-negara Barat.
Roy juga menilai dampak regional konflik ini sangat signifikan, terutama terkait keamanan jalur energi global.
Iran dilaporkan mengklaim telah menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk fasilitas militer di Kuwait.
Selain itu, konflik juga memicu ketegangan di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Menurut Roy, Iran sempat memperingatkan kapal-kapal komersial agar tidak melewati wilayah tersebut, yang menyebabkan penurunan lalu lintas kapal tanker serta gangguan pada rantai pasokan energi global.
Jika gangguan di selat tersebut berlanjut, dampaknya dapat berupa:
lonjakan harga minyak dunia
krisis energi di Eropa dan Asia
peningkatan biaya logistik maritim global
Roy juga menyinggung dampak ekonomi global yang dapat muncul akibat konflik tersebut.
Ia menilai krisis di Selat Hormuz dapat mengganggu perdagangan minyak Teluk menuju pasar Asia dan Eropa, sekaligus memicu inflasi energi global. Selain itu, perdagangan LNG dari Qatar juga berpotensi terganggu.
Roy bahkan menyoroti pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang sempat menyebut cadangan BBM nasional hanya cukup sekitar 20 hari, serta munculnya informasi mengenai instruksi status Siaga 1 dari Panglima TNI.
Menurutnya, situasi tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap dampak konflik Timur Tengah terhadap stabilitas energi nasional, meskipun kondisi konflik saat ini disebut mulai melandai.
Dalam analisis geopolitiknya, Roy menilai konflik ini menunjukkan sejumlah perubahan penting dalam balance of power global.
Beberapa tren strategis yang muncul antara lain:
munculnya multipolaritas militer global, di mana negara seperti Iran mampu mengembangkan teknologi militer canggih
meningkatnya penggunaan perang asimetris dengan drone murah dan rudal presisi
kerentanan infrastruktur militer statis seperti pangkalan udara
penggunaan strategi Anti-Access/Area Denial (A2/AD) untuk membatasi operasi militer musuh
Strategi A2/AD sendiri menurut Roy banyak digunakan Iran di kawasan Teluk melalui kombinasi rudal balistik, drone, ranjau laut, dan kapal cepat.
Roy menegaskan bahwa negara-negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik, termasuk Indonesia, tetap berpotensi terkena dampak.
Dampak tersebut dapat berupa:
kenaikan harga energi
gangguan rantai pasokan global
ketidakstabilan pasar keuangan
Selain itu, posisi diplomatik Indonesia juga dinilai menjadi semakin kompleks karena adanya tarik-menarik kepentingan geopolitik dari berbagai blok kekuatan global, termasuk blok Barat, negara-negara Arab, serta China.
Di akhir analisanya, Roy menyebut konflik ini memperlihatkan transformasi penting dalam karakter perang modern yang semakin didominasi teknologi presisi tinggi seperti drone dan rudal hipersonik.
Ia juga menilai sistem pertahanan udara konvensional kini menghadapi tantangan serius dari generasi senjata baru tersebut.
Selain itu, konflik regional juga dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis global melalui gangguan energi dan perdagangan internasional.
Roy berharap Indonesia mampu memainkan peran strategis dalam situasi geopolitik yang kompleks ini.
“Sebagai seorang pemimpin, diharapkan Presiden Prabowo Subianto benar-benar dapat menunjukkan taringnya sebagai ‘Macan Asia’ dan membanggakan Indonesia di mata dunia,” tulis Roy.

Social Plugin